HANDMADE V-TWIN 815 . | NO BOUNDARIES BIKE

14 Dec 2017

Motor-motor racikan M Yusuf Adib Mustofa memang selalu beda. Pada Kustomfest 2017, builder Psychoengine ini kembali mencuri perhatian dengan membawa custom bergaya cafe racer berjuluk “Kalabendu”, custom bike yang 90 persen bagiannya adalah handmade alias buatan tangan.

Yang menarik, Kalabendu ini tanpa basik mesin pabrikan. Dikenal sebagai engine builder, Yusuf kembali membangun sendiri engine Kalabendu dengan sebuah mesin V-Twin 815 .. Areal cranck case dikerjakan sendiri oleh Yusuf dengan dengan casting manual yang kemudian difinishing mesin milling. Sedangkan untuk bagian silinder dan headnya custom dari copotan Bajaj Pulsar.

Secara teknis, Yusuf benar-benar membuat semua bagian mesin dari awal mulai dari jalur oli dalam bak oli di mesin, kruk as hingga konfigurasi mesin yang sengaja ia buat secara ganjil. Ia juga membuat stroke motor dengan mesin V kembar ini dengan ukuran 100 di mana stang seher ia gunakan milik motor Harley-Davidson Iron Head yang dikombinasikan dengan seher mobil yaitu Honda Excellent berukuran 72 mm.

Mesin ia cor ulang dengan penuh perhitungan. Penghitungan inilah yang menjadi tantangan bagi Yusuf dalam membuat Kalabendu. Yusuf yang merasa kruk as milik Iron Head masih belum terasa berat, demi menghasilkan torsi bawah, ia pun menambahkan beban 3 kg dengan menambahkan bandul pada kruk as yang sedikit ia ubah. Menariknya bukan hanya seher, peranti mobil yang ia gunakan dalam mesin berkapasitas 815 . ini, ia juga menggunakan kem milik Daihatsu Hi Jet 1000.

Sebagai penggerak mekanikal, builder asal Purwokerto ini menggunakan timing belt yang juga diambil dari mobil van, Mitsubishi L300 tipe bensin berikut dengan gigi timing beltnya. Bagian tersulit lain juga terlihat pada pembuatan sproket kopling dan primer yang dibuat secara handmade dengan perbandingan 24 : 48. Kopling set ia gunakan dari Harley-Davidson tipe Spprtster 883 yang dikawinkan dengan girbok 4 percepatan milik BSA tahun 1956 atau dikenal dengan sebutan BSA Plastik.

Di sisi pengapian, builder yang terkenal dengan mesin lima silinder bernama Naga Lima ini menggunakan pengapian dengan sistem CDI milik Shogun Kebo dan pulser kepunyaan Honda Tiger. Hal ini diyakini Yusuf agar motor tidak sulit mendapatkan asupan api dalam ruang bakar. Selain itu, motor pun akan nyaman dikendarai dan mendapatkan langsam yang normal.

Part lainnya seperti crankshaft, camshaft, oil pump, sproket, dan detail lainnya, semua diambil dari berbagai part motor lain yang sudah melewati proses custom. Beberapa material ia gunakan berupa aluminium, plat besi 6 mm, pipa seamless, pipa kotak, hingga beberapa part second seperti stang piston dan kompresor AC bekas. Estimasi, 95 persen mesin motor ini custom.

Jika mesin saja ia buat sendiri, bagian body sudah pasti juga dibangunnya langsung. Seperti pada frame yang full custom, stang, tangki dan lampu, ditambah knalpot stainless dengan las cacing.  Pada bagian kaki-kaki, Yusuf mengaplikasi velg original Honda CX 500 yang sekitar 20 persennya ia custom dengan model palang berukuran 215/19. Velg ini ia aplikasikan dnegan ban Fuckstone berukuran 19/400.

Sementara di sisi belakang, diaplikasi velg yang sama dengan kustomisasi sekitar 40 persen. “Jadi dirubah dari sistem gardan menjadi sistem sprocket berukuran 17/450,” jelas Yusuf. Sementara pada shock, mengaplikasi produk aftermarket dengan T atas bawah yang juga dicustom.

Sementara untuk detail pada areal bodinya yang membuat motor ini beda lagi dari yang lainnya, ukiran dari kulit asli. Detail ukiran – ukiran tersebut hasil kerajinan tangan langsung dari Cetul Leatherart yang terdapat pada beberapa parts seperti tangki, tutup tangki, jok, hingga buritan dengan berbagai gambar yang berbeda-beda.  “Saya ikut support project ini untuk berkolaborasi dengan Yusuf Adib Mustofa,” jelas Cetul punggawa Cetul Leather Art.

Nama Kalabendu sendiri diartikan sebagai “masa kegilaan”. Kala (Betara Kala) yang dalam mitologi Jawa dan Bali adalah Dewa Waktu dan Kegelapan. Kalabendu juga diartikan sebagai satu era dari sebuah bencana. Uniknya, tiap ukiran di masing-masing benda juga punya makna masing-masing. “Ada 4 bagian yang menjadi tanggung jawab saya untuk mempresentasikan tema “Kalabendu” dalam budaya Jawa,” ungkap Cetul. Ukiran pada tangki merupakan sebuah prolog dari “kalabendu”. Sosok Kala mewakili sebuah masa, diwarnai two-tone yang cenderung gelap untuk mewakili masa kesuraman.

Sementara pada jok, Cetul ditantang untuk menceritakan ‘kekacauan yang sebenarnya’. Selanjutnya, cerita-cerita pada masa tersebut juga coba ditorehkan pada bagian hornet dengan two tone yang didominasi warna gelap, serta pada bagian bawah dan tank cap. “Motor ini adalah sebuah karya tanpa batasan. Jadi kenapa saya harus memberi batasan-batasan tertentu untuk mempresentasikannya? Orang di balik motor ini benar-benar tau bagaimana menterjemahkan “No Boundaries”,” tutup Cetul.

Kalabendu didominasi warna gelap. Karena konsepnya yang mengusung cafe racer racing, ia memilih teknik carbon water printing. Dengan keunikannya ini, pantas jika Kalabendu ini menyandang gelar Best People Choice Bike di ajang Kustomfest 2017 di Yogyakarta Oktober lalu.