Urban culture rupanya dapat direspon cepat oleh masyarakat Sidoarjo. Kehidupan metropolis pun nampak semenjak memasuki kota ini. Salah satunya tempat kongkow yang berkonsep industrial yaitu Cyclo Coffe yang terletak di jalan Raya Ponti no. 7 Sidoarjo. Menariknya, beberapa staffnya adalah orang yang berkebutuhan khusus yang di baliknya, ada cerita tersendiri.

Nama Cyclo sendiri diambil dari kata benda yaitu roda dalam bahasa Indonesia, karena sang pemilik Wargo Arijanto yang demen otomotif baik roda dua maupun roda empat. Misalnya beberapa koleksi Volks Wagon, terutama Dahkota dengan style hotrod. Tak hanya mobil vintage, bemo pun dipajang untuk melengkapi dekorasi kedai kopinya. Dengar-dengar, biaya restorasi bemo ini sampai 10 kali lipat dari harga belinya, wedeh.

Desain Cyclo Coffe cukup menarik dengan kehadiran container sepanjang 40 feet. Kabarnya, Cyclo coffe termasuk pioneer di kota Sidoarjo yang memanfaatkan container sebagai commercial space terutama di bisnis kuliner. Cyclo Coffe juga menyediakan space out door yang memanfaatkan bagian atap conteirner. So sambil ngobrol-ngobrol di area open air, mampu menyatukan rasa dengan atmosfer kota Sidoarjo.

Dari nama Cyclo Coffe, menu spesial di sini tentunya adalah sajian kopi. Ada 7 jenis kopi yang ditawarkan, seperti Blue Java dari pegunungan Ijen, Gayo, Flores, Lito, Robusta, dan Toraja. Khusus Blue Java, melalui honey process, yakni dari biji dipetik kemudian digiling, direndam dalam air mengalir selama semalam, dijemur, giling lagi untuk menghilangkan kulit ari, baru disangrai. Tentu dengan proses ini harga kopi juga sedikit lebih mahal dari jenis lain. Untuk seminggu, Wargo mengaku bisa menghabiskan sebanyak 80 kg kopi untuk kedua kedainya.

Sementara untuk menu, ada beragam yang ditawarkan, mulai dari ragam roti panggang, ayam, dan western food macam Pizza dengan pilihan rasa dari margaritha, meat lover, pepperoni dan masih banyak lagi.

Cyclo Coffe telah berdiri sejak 2011 dan kini telah memiliki beberapa cabang. “Satu di kota Sidoarjo, satu di daerah bandara Juanda, dan satu lagi ada di kota Semarang Jawa Tengah”, jelas Wargo yang mengunakan sepeda sebagai sarana transportasi untuk bertandang ke kedai kopinya.

Keuntungan dari 2 kedai di kawasan Jawa Timur digunakan untuk menyupport kedai kopi di kota Semarang.  Mulianya, pria setengah baya ini menaruh perhatian pada anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Seperti tuna rungu maupun penderita autis. Sehingga Cyclo Coffe yang berada di kota Semarang dikhususkan untuk membimbing ABK.

“Kami ingin mendidik mereka untuk mandiri seperti layaknya orang normal dan bisa produktif. Ada anak yang sudah kami bimbing menjadi baik, akhirnya ditarik oleh perusahaan otomotif dari Jepang,” bangga bapak yang gemar me-roasting biji kopi untuk kedainya.

Saat ini ada tiga orang berkebutuhan khusus yang menjadi karyawan di Cyclo coffe Semarang, dan semuanya telah dibekali pelatihan dari Wargo langsung untuk mengolah kopi dan makanan lain.

Lalu bagaimana cara berkomunikasinya? “Kalau dengan saya, saya yang mengalah untuk mempelajari bahasa isyarat. Sedang dengan konsumen ya harus menunjuk atau menggunakan angka. Syukur sampai saat ini belum ada konsumen yang komplain,” ujar pria yang memiliki 3 putra ini.

Menariknya beberapa komunitas ABK sering datang dan berkumpul. “Nah menariknya bisa dibilang ramai tapi sepi, karena ada banyak orang, tapi tidak berisik, karena mereka adalah tuna rungu dan tuna wicara,” tutupnya sambil bercanda. Cyclo Coffe ini baru beroperasi mulai jam 4 sore sampai tengah malam.